Menu

Latest Research

menstruasi Software Baru Empat Kali Lebih Akurat Mendeteksi Kanker Ovarium

Software Baru Empat Kali Lebih Akurat Mendeteksi Kanker Ovarium

Kanker ovarium, indung telur, adalah silent killer no.1 pada perempuan. Jenis kanker ini cenderung terdeteksi pada tahap lanjut, sehingga menyisakan hanya sedikit waktu untuk proses pengobatan. Saat ini telah ditemukan perangkat lunak yang telah terbukti 4 kali lebih akurat mendeteksi kondisi, sehingga penanganan yang tepat dan efektif bisa segera diberikan.

Hingga saat ini, cara mendeteksi kanker ovarium hanyalah dengan test darah yang dikenal dengan istiralh CA125 dilanjutkan dengan CT scan untuk mendapatkan gambaran rinci bentuk kanker di ovarium tersebut. Kedua metode ini memberikan informasi pada dokter tentang penyebaran yang mungkin telah terjdi, sehingga bisa menentukan apakah pasien ditangani dengan operasi atau kemoterapi, misalnya. Tetapi kedua metode tersebut tidak memberikan informasi tentang efektivitas dan hasil metode penanganan yang dilakukan.

Kondisi inilah yang membuat para ahli berusaha menemukan cara yang lebih baik untuk mendeteksi kanker ovarium. Para ahli dari Imperial College, London dan the University of Melbourne, Australia sejak tahun 2004 hingga 2015 telah mengembangkan sejenis software yang dipadukan dengan CT scan untuk menganalisa tingkat keagresifan tumor/kanker ovarium. Para ahli ini menggunakan sample jaringan yang diambil dari 364 pengidap kanker ovarium

Software tersebut bekerja mendeteksi 4 karakteristik tumor, yaitu struktur, ukuran, bentuk dan susunan genetik. Keempat unsur tersebut diketahui memengaruhi kelangsungan hidup pasien. Hasil test ini kemudian disebut dengan istilah Radiomic Prognostic Vector (RPV), dan berfungsi sebagai indikator tingkat keparahan penyakit.

Dibandinkan hasil test darah CA125, maka RPV lebih tepat mendeteksi tingkat keparahan, 4 kali lebih tepat memrediksi kondisi pasien, bahkan 5% lebih akurat memberikan data tentang pasien di tahapan akhir, dengan kemungkinan bertahan hidup hingga 2 tahun setelah didiagnosa. Metode mengidentifikasi kondisi pasien ini, jika dilakukan pada tahap dini memberi kesempatan menentukan terapi yang tepat dan meningkatkan kemungkinan hidup.

Para peneliti, yang dikepalai Profesor Andrea Rockali dalam laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh the journal Nature Communications, menjelaskan teknologi ini bisa membantu para dokter mengoptimalkan penanganan sedini mungkin dan menentukan langkah pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Related Articles