Menu

Reproductive Health

Mengenali Berbagai Masalah Genital

Gangguan yang dialami alat genital perempuan sangat beragam. Tetapi umumnya keluhan yang muncul adalah; aroma tak sedap, gatal, dan nyeri. Kenali berbagai gejalanya secara pasti, agar dapat memberikan penanganan pertama, bahkan mencegah gejala berulang.

Keputihan
Kondisi ini lebih sering dipicu penggunaan celana dalam yang terlalu ketat atau terlalu sering menggunakan G-string. Selain memerangkapkan kulit sehingga sulit mendapatkan udara, celana yang ketat adalah "jembatan" yang menghubungkan bakteri dari saluran pembuangan ke area vagina

Anda tak perlu berhenti mengenakan G-string, tetapi pastikan terbuat dari bahan katun, juga tidak menggunakannya ketika berolahraga. Karena gesekan antara G-string yang tipis rentan memicu iritasi. Selain itu hindari menggunakan celana dalam yang ketat. Pilih bahan celana dalam dan G-string yang terbuat dari bahan katun. Selain itu, jangan mencukur habis rambut pubis, karena bisa mencegah terjadinya gesekan langsung antara celana dalam dan kulit di area genital, yang memicu iritasi yang berlanjut pada keputihan.

Benjolan di saluran vagina
Pemicu utama gejala ini, adalah pembengkakan kelenjar Bartholin. Ini adalah kelenjar yang memroduksi cairan vagina. Adakalanya cairan yang diproduksi tidak keluar, sehingga membentuk kista kecil, yang terletak agak di ujung luar saluran vagina.

Kondisi ini sebenarnya bisa mereda tanpa perlu penanganan khusus. Kista kelenjar Bartholin ini bisa diatasi dengan berendam di dalam air hangat 2 hingga 3 kali sehari.  Tetapi jika pembengkakan tidak mereda, terasa sakit dan membesar, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Dalam kondisi ini, dokter akan melakukan tindakan masupialization; menyedot keluar cairan dari kista, kemudian membersihkan saluran. Jika tindakan ini dilakukan, maka dibutuhkan waktu 1 bulan untuk benar-benar pulih.

Sensasi panas saat berkemih
Ada dua kondisi yang memungkinkan hal ini terjadi:

1. Terjadi gesekan saat hubungan intim, yang mengiritasi saluran kemih. Ini adalah hal yang sangat umum.  Kurangnya cairan vagina, dan hubungan seksual yang terlalu lama adalah penyebab utama. Jika benar demikian, maka sebaiknya menggunakan cairan pelumas untuk menghindari iritasi, atau jika sudah terjadi cobalah berendam di dalam air hangat, agar nyeri mereda.

2. Infeksi di saluran kemih atau di saluran vagina. Jika Anda mengalami perih sesaat urin akan keluar, maka sebenarnya ini adalah infeksi saluran vagina. Sebaliknya jika perih dirasakan sejak urin keluar dari kandung kemih, maka ini pertanda infeksi saluran kemih. Cara mengatasinya adalah segera berkonsultasi dengan dokter. Kondisi ini sebaliknya dapat dicegah dengan selalu berkemih sebelum dan setelah melakukan hubungan intim.  

Aroma tak sedap, dan gatal
Pemicu gejala ini adalah infeksi bakteri vaginosis. Ini adalah jenis infeksi bakteri yang sangat umum, karena keseimbangan pH di area genital terganggu. Aktivitas bakteri ini sebenarnya dipicu oleh penggunaan cairan pembersih, atau bisa juga karena baru melakukan hubungan seksual. Gejala lain yang muncul menyertai aroma tak sedap dan gatal pada infeksi bakteri vaginosis, adalah keputihan, dan rasa terbakar di saluran vagina.

Infeksi bakteri vaginosis yang tidak ditangani hingga tuntas dapat menyebabkan gangguan yang lebih serius, seperti; kelahiran prematur pada ibu hamil, infeksi pasca-melahirkan, dan pembengkakan rongga panggul.

Jika gejala-gejala tersebut dialami, segera hentikan penggunaan cairan pembersih, mengatur periode hubungan seksual, dan segera berkonsultasi dengan dokter.

Related Articles