Menu

Latest Research

menstruasi Migrain dan  Menstruasi%2C Dipicu Perubahan Hormon dan Stres

Migrain dan Menstruasi, Dipicu Perubahan Hormon dan Stres

Migrain diketahui diderita berbagai usia dan gender, namun data yang saat ini terkumpul memastikan bahwa 85% penderita migrain adalah perempuan. Para ahli dari NIH - National Institution of Health di Amerika, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli neurologi di Harvard Medical School memastikan kondisi ini benar, bahwa perempuan lebih rentan mengalami migrain dibandingkan lelaki.

Migrain yang juga dikenal sebagai sakit kepala hanya di sebelah sisi saja, adalah gangguan neurologis yang disertai gejala serius seperti gangguan penglihatan, mual dan muntah, pusing, peka terhadap cahaya, suara, dan aroma. Serangan migrain bisa dialami seorang perempuan selama berjam-jam, bahkan berlangsung berhari-hari.

Menurut ketua tim peneliti dari Harvard Medical School, Prof. Elizabeth Loder, pada perempuan berusia di bawah 50 tahun, migrain yang dialami berhubungan denagn meningkatnya risiko stroke; terutama jika penderitanya merokok dan menggunakan kontrasepsi oral. Berdasarkan pengamatan para ahli, migrain menimbulkan kerugian yang relatif besar, sebanyak sekitar $78 miliar per tahun, berupa biaya medis dan kerugian akibat terhambatnya produktivitas. Laporan penelitian ini telah dirilis oleh jurnal khusus penelitian tentang kesehatan perempuan, Society for Women's Health Research.

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa migrain cenderung dialami dan dikeluhkan oleh perempuan, karena perempuan lebih rentan mengalami rasa sakit. Akibatnya, keluhan rasa sakit tersebut cenderung dianggap tidak serius, dan perempuan penderitanya dianggap bertingkah berlebihan. Keluhan migrain seringkali ditanggapi tidak serius dan diasumsikan sebagai kondisi stres, sehingga para perempuan penderitanya hanya disarankan untuk melakukan relaksasi.

Para ahli menyimpulkan bahwa migrain cenderung dialami perempuan di usia pra-remaja dan setelah memasuki periode menopause. Hal ini disebabkan karena migrain berkaitan erat dengan kadar estrogen yang rendah di dalam tubuh. Sedangkan di usia produktif, migrain dialami perempuan pada saat masa subur. Ketika kadar estrogen sedang rendah. Migrain yang diidap dapat segera kambuh jika terpapar faktor tertentu, seperti; stres, perubahan pola tidur, suara keras, cahaya terang, bau yang kuat, dan berbagai makanan dan minuman.

Hal inilah yang menyebabkan para ahli menyarankan agar perempuan mengetahui dengan tepat faktor-faktor yang memicu sensitivitasnya, dan menghindari faktor-faktor tersebut pada periode tertentu di sepanjang siklus menstruasinya, agar menghidari migrain kambuh.

Related Articles