Menu

Latest Research

menstruasi Kebanyakan Junk Food di Usia Remaja Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Kebanyakan Junk Food di Usia Remaja Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Hasil penelitian terdahulu telah menemukan hubungan yang sangat erat antara asupan nutrisi yang tidak sehat; sedikit sayuran, kadar gula tinggi dan karbohidrat olahan, daging merah dan daging olahan, cenderung memicu risiko kanker tertentu. Namun berdasarkan penelitian terbaru, secara spesifik dijelaskan bahwa pada perempuan, asupan nutrisi yang tidak sehat di masa remaja, akan memicu risiko kanker payudara yang lebih tinggi kelak.

Pernyataan tersebut merupakan laporan yang ditulis oleh Karin B. Michels, Ph.D. - seorang profesor dan ketua Departemen Epidemiologi di Fielding School of Public Health, University of California-Los Angeles, dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarker & Prevention edisi akhir tahun 2018. Laporan tersebut merupakan kesimpulan yang diambil setelah Karin bersama tim peneliti menganalisa data 45.204 responden perempuan yang menjadi bagian dari Nurses 'Health Study II.

Dalam laporannya itu, Karin menuliskan bahwa sekitar 12% perempuan di Amerika Serikat mengalami kanker payudara. Menurutnya, risiko kanker payudara setiap perempuan berbeda karena banyak faktor, termasuk kecenderungan genetik, demografi, dan gaya hidup. Dalam penelitian yang dilakukan kali ini, tim peneliti yang dipimpin Karin memusatkan perhatian pada asupan makanan pemicu inflamasi tubuh yang dikonsumsi saat remaja dan usia dewasa muda memengaruhi risiko seorang perempuan mengembangkan kanker payudara di kemudian hari.

Metode pengambilan data yang dilakukan adalah dengan pengisian kuesioner. Kelompok responden terbagi atas 2:

  • Kelompok yang mengisi kuesioner pada tahun 1998 - ketika itu responden rata-rata berusia antara 33 dan 52. Para responden diminta memberi data tentang frekuensi makanan, merinci jenis makanan yang mereka konsumsi selama sekolah menengah.
  • Kelompok kedua mengisi kuesioner yang sama pada tahun 1991. Pada saat itu, para responden berusia antara 27 dan 44 tahun.

Selanjutnya setiap 4 tahun, para responden dari kedua kelompok ini kembali mengisi kuesioner yang sama untuk memperbarui data mereka.  Para peneliti kemudian memantau penanda pembengkakan di dalam darah, dan mengaitkannya dengan makanan yang dikonsumsi para responden. Para responden kemudian dikategorikan atas 5 kelompok berdasarkan klasifikasi nilai penanda pembengkakan dalam darah tersebut..

Responden yang memiliki skor diet inflamasi lebih tinggi berdasarkan asupan saat remaja, memiliki risiko 35% lebih tinggi terhadap kanker payudara, dibandingkan responden yang memiliki skor terendah. Sementara kelompok responden dengan nilai pembengkakan tertinggi, memiliki risiko 41% lebih tinggi mengalami kanker payudara, dibandingkan kelompok responden dengan nilai terendah.

Para peneliti mengakui bahwa ada keterbatasan dalam penelitian ini, antara lain; responden melaporkan makanan di masa remaja mereka bertahun-tahun setelah mereka dewasa, sehingga bisa saja data yang diberikan tidak tepat. Selain itu, para peneliti tidak memiliki akses ke pengukuran penanda darah inflamasi responden untuk selama masa remaja untuk memastikannya. Namun hasil penelitian ini bisa menjadi peringatan tentang bahaya pola diet yang tidak sehat jika dikonsumsi di masa remaja, karena akan menyebabkan gangguan kesehatan serius kemudian.

Related Articles