Menu

Latest Research

Hormon Reproduksi Sebabkan Asma pada Perempuan

Para peneliti dari Vanderbilt University dan John Hopkins telah menemukan bahwa fakta perempuan dua kali lebih banyak mengalami asma dibandingkan lelaki, disebabkan oleh perbedaan gender. Hormon reproduksi perempuan yang dihasilkan ovarium, yaitu estrogen dan progesteron, bereaksi negatif terhadap sel-sel paru-paru. Sebaliknya testosteron menghambat gejala asma, seperti pembengkakan dan produksi lendir pada paru-paru.

Laporan penelitian ini ditulis oleh Dawn Newcomb, penulis dan peneliti senior dari Vanderbilt University Medical Center, dan telah dipublikasikan pada terbitan akhir tahun the Journal Cell Report pada November 2017. Menurut artikel tersebut, ketika para peneliti memulai penelitian, mereka berasumsi bahwa hormon reproduksi perempuan dan lelaki, menyebabkan terjadinya pembengkakan. Tetapi kemudian ditemukan bahwa testosteron justru mencegah terjadinya pembengkakan.

Newcomb dan rekan-rekannya menggunakan sel paru-paru manusia dan tikus untuk meneliti faktor perbedaan gender ini. Mereka mengamati sel paru-paru yang disebut kelompok sel 2 innate lymphoid atau dikenal sebagai sel ILC2. Sel-sel ini membuat cytokine, protein yang memicu terjadinya pembengkakan dan produksi lendir di paru-paru, sehingga mengganggu proses bernapas.

Para peneliti mengumpulkan contoh darah dari orang yang sehat dan yang mengidap asma, dan menemukan bahwa sample darah pengidap asma memiliki lebih banyak sel ILC2. Dari kelompok ini kemudian dipastikan bahwa lebih banyak sel ILC2 pada perempuan pengidap asma, dibandingkan lelaki pengidap asma. 

Sel-sel ILC2 juga ditemukan di paru-paru tikus, tetapi sangat jarang. Mereka hanya terbentuk sekitar 10.000, dari 10.000.000 sel yang ada di paru-paru tikus. Hal ini sama seperti yang ditemukan pada paru-paru manusia, Newcomb dan rekan-rekannya selalu menemukan bahwa terdapat lebih sedikit sel pada tikus jantan, dibandingkan pada tikus betina. Mereka menggunakan sel-sel ini untuk berekperimen dan memantau reaksi hormon ketika dipaparkan pada sel ILC2

Ketika para peneliti menambahkan estrogen dan progesteron pada sel-sel ILC2, tidak terlihat perubahan berarti sehubungan dengan kegiatan sel memroduksi cytokine. Namun, ketika testosteron ditambahkan, mereka melihat hormon tersebut mencegah sel berkembang dan menekan terjadinya produksi cytokine.

Para peneliti berharap masih dapat mengembangkan penelitian dan memahami peran hormon reproduksi terhadap gangguan pernapasan. Artikel laporan penelitian tersebut mengingatkan bahwa hormon reproduksi hanyalah salah satu pemicu. Masih ada banyak faktor yang perlu diteliti untuk memastikan kondisi asma ini.

Related Articles