Menu

Reproductive Health

Didera Oligomenorrhea?

Saat mengalami menstruasi yang tidak teratur, tentu saja seorang perempuan merasa tidak nyaman. Terlebih jika sedang merencanakan kehamilan, siklus menstruasi yang tidak teratur berarti sulit menentukan masa subur dan mengoptimalkannya. 

Kondisi ini bisa saja disebabkan karena belum menghitung siklus menstruasi secara tepat sehingga siklus yang panjang terasa berbeda-beda tanggal hari pertamanya, dan tidak teratur; atau memang benar tidak teratur. Kondisi siklus menstruasi yang tidak teratur ini, dikenal sebagai Oligomenorrhea.

Penyebab Oligomenorrhea

Oligomenorrhea adalah kondisi yang dialami jika perempuan pada usia produktif. Penyebab utama oligomenorrhea adalah ketidakseimbangan kadar hormon reproduksi. Kondisi ketidakseimbangan kadar hormon reproduksi ini bisa dialami seorang perempuan karena 3 faktor:

  • Genetis, dibawa sejak lahir dari garis keturunan ibu.
  • Pola hidup, akibat olahraga berat yang intensif atau karena gangguan pola makan (Bulimia atau Anorexia nervosa) yang menyebabkan tubuh tidak mendapatkan cukup nutrisi untuk menghasilkan kadar hormon reproduksi yang seimbang. 
  • Gangguan kesehatan seperti POCS (Polycystic Ovary Syndrome), diabetes atau gangguan kelenjar tiroid. 

Memastikan dan Mengatasi

Oligomenorrhea biasanya terdiagnosa oleh dokter setelah mengamati riwayat menstruasi seorang perempuan, dan ditunjang dengan pemeriksaan fisik yang dibantu USG.

Kondisi oligomenorrhea, tidak terkategori sebagai gangguan reproduksi yang serius. Siklus mestruasi dapat diatur dengan obat-obatan hormonal, dan jika ada masalah pola hidup maka perlu dilakukan intervensi seperti menghentikan aktvitas olahraga yang berlebihan, atau merehabilitasi gangguan pola makan. 

Hal yang paling penting untuk dilakukan ketika kita menyadari terjadi perubahan siklus menstruasi, menjadi lebih panjang sehingga menstruasi terasa sangat lama berulang, adalah segera berkonsultasi dengan dokter Obgyn. Semakin cepat ditangani, maka akan semakin cepat siklus menstruasi kembali normal. 

Related Articles