Menu

Latest Research

Cara Baru Mendeteksi Kanker Serviks


Jika selama ini Pap Smear dipandang sebagai cara paling jitu mendeteksi kanker serviks, maka para ilmuwan yang berasal dari Italia menyatakan bahwa tes HPV DNA terbukti lebih unggul.

Berita tersebut menarik perhatian berbagai kalangan setelah hasil penelitian tersebut dipublikasikan oleh The Lancet Oncology Journal di Australia pada akhir bulan April 2010.

Menurut artikel tersebut, tes DNA human papillomavirus terbukti dapat mendeteksi perubahan sel pada serviks di tahap awal, sehingga bisa memberi informasi yang mencegah terjadinya kanker. Dibandingkan Pap Smear yang bisa mendeteksi sel yang telah berubah sifat, dan berarti telah terjadi kanker.

Penelitian ini melibatkan 100.000 responden perempuan yang berusia rata-rata di atas 35 tahun, yang telah menjalani berbagai proses pemeriksaan dini terhadap kanker serviks. Para peneliti di Italia, yang berasal dari Pusat Pencegahan Kanker negara itu, menyatakan bahwa Pap Smear bukannya tidak berguna lagi, justru setelah seorang perempuan terdeteksi positif melalui tes DNA HPV, perlu dilakukan Pap Smear untuk memastikan perubahan sel yang terjadi.

Sekalipun demikian, para ahli tidak menyarankan tes DNA HPV ini dijalani oleh perempuan berusia di bawah 35 tahun. Hal ini disebabkan karena tes tersebut dapat memberikan diagnosa yang berlebihan tentang infeksi yang terjadi pada serviks.

Faktanya, kanker serviks dipicu oleh infeksi HPV yang merupakan salah satu infeksi seksual menular. Hanya pada orang tertentu infeksi tersebut bisa berubah menjadi kanker, sangat tergantung pada sistem kekebalan tubuh orang tersebut, dan dibutuhkan waktu sekitar 10 tahunan sejak pertama kali terpapar HPV sehingga berubah menjadi kanker.

Jadi, jka seorang perempuan berusia di bawah 35 tahun terpapar HPV dan menjalani test DNA HPV, maka hasil tesnya akan positif sehingga memicu berbagai diagnosa yang keliru, padahal belum tentu seorang perempuan itu mengalami kanker

Related Articles